Sepsis

Berasal dari bahasa Yunani sêpsis (pembusukan), istilah ini kini berevolusi dari sekadar infeksi berat menjadi fenomena 'badai imun' yang menyerang tubuh sendiri.

#sepsis

Definisi Klinis

  • Sepsis: Disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respons imun pejamu terhadap infeksi.
  • Syok Septik: Kondisi sepsis di mana kelainan sirkulasi dan metabolik seluler sangat berat. Ditandai secara klinis dengan:
    • Kebutuhan vasopresor untuk mempertahankan MAP ≥ 65 mmHg.
    • Kadar Laktat serum > 2 mmol/L (18 mg/dL) meskipun telah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat.

Skrining dan Kriteria Diagnosis

Alat Skrining Awal

  • NEWS (National Early Warning Score) / MEWS: Lebih direkomendasikan daripada qSOFA sebagai alat skrining tunggal karena memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk deteksi dini.
  • qSOFA (Quick SOFA): Terdiri dari (1) Laju napas ≥ 22x/mnt, (2) Perubahan status mental/GCS < 15, (3) TD Sistolik ≤ 100 mmHg. Saat ini qSOFA tidak lagi disarankan sebagai alat skrining mandiri yang utama.

Kriteria Diagnosis (SOFA Score)

Disfungsi organ dikonfirmasi dengan peningkatan skor SOFA ≥ 2 poin. Komponen SOFA meliputi:

  1. Respirasi: Rasio PaO2/FiO2.
  2. Koagulasi: Jumlah trombosit.
  3. Liver: Kadar bilirubin.
  4. Kardiovaskular: Tekanan darah rata-rata (MAP) atau kebutuhan vasopresor.
  5. Sistem Saraf Pusat: Glasgow Coma Scale (GCS).
  6. Ginjal: Kadar kreatinin atau output urin.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan harus dilakukan segera (idealnya dalam 1 jam pertama):

  • Kadar Laktat Serum: Diukur segera sebagai penanda hipoperfusi jaringan. Ukur ulang jika laktat awal > 2 mmol/L.
  • Kultur Mikrobiologi: Ambil minimal 2 set kultur darah (aerob dan anaerob) sebelum pemberian antibiotik.
  • Laboratorium Rutin: Darah lengkap, fungsi ginjal (Ureum/Kreatinin), fungsi hati (SGOT/SGPT, Bilirubin), elektrolit, dan profil koagulasi.
  • Procalcitonin (PCT): Digunakan terutama untuk membantu keputusan penghentian antibiotik (de-escalation), bukan sebagai penentu utama untuk memulai antibiotik.
  • Pencarian Sumber: Pencitraan (Rontgen thoraks, USG abdomen, atau CT scan) sesuai kecurigaan fokus infeksi.

Tatalaksana (Bundel Resusitasi)

A. Resusitasi Cairan Awal

  • Volume: Berikan minimal 30 mL/kg cairan kristaloid intravena dalam 3 jam pertama.
  • Jenis Cairan: Disarankan menggunakan kristaloid berimbang (balanced crystalloids seperti Ringer Laktat atau Asering) dibandingkan Normal Saline (NaCl 0.9%).
  • Target: Gunakan parameter dinamis (seperti Passive Leg Raising atau variasi tekanan nadi) untuk menilai kecukupan cairan.

B. Terapi Antimikroba & Kontrol Sumber

  • Waktu: * Syok Septik/Sepsis Pasti: Berikan antibiotik spektrum luas dalam 1 jam.
    • Sepsis Mungkin (Tanpa Syok): Penilaian cepat dalam 3 jam; berikan antibiotik jika infeksi tetap dicurigai.
  • Kontrol Sumber: Identifikasi fokus infeksi (abses, jaringan nekrotik) dan lakukan tindakan definitif (drainase/debridemen) sesegera mungkin.

C. Terapi Vasoaktif (Jika MAP < 65 mmHg)

  1. Lini Pertama: Norepinefrin (Target MAP ≥ 65 mmHg).
  2. Lini Kedua: Tambahkan Vasopressin jika dosis norepinefrin sudah mencapai rentang 0.25–0.5 mcg/kg/menit.
  3. Inotropik: Gunakan Dobutamin pada pasien dengan tanda hipoperfusi persisten meskipun status cairan dan MAP sudah optimal (disfungsi miokard).

5. Terapi Adjuvan

  • Kortikosteroid: Berikan Hidrokortison intravena dosis 200 mg/hari (50 mg tiap 6 jam atau infus kontinu) hanya pada pasien syok septik yang memerlukan vasopresor dosis tinggi secara persisten.
  • Target Glukosa: Mulai insulin jika kadar gula darah ≥ 180 mg/dL (Target: 140–180 mg/dL).
  • Transfusi: Target Hemoglobin (Hb) adalah > 7.0 g/dL (kecuali pada perdarahan akut atau iskemia miokard).

Pedoman & PPK

2025 NICE Sepsis Guideline
2021 Surviving Sepsis Campaign

Clinical Tools

Sequential Organ Failure Assessment untuk menilai disfungsi organ pada sepsis.

Agenda & Pendidikan

Simposium, Workshop, dan Webinar terkait topik ini

Belum ada agenda kegiatan terjadwal.

Butuh bantuan? Chat kami!