Definisi
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh infeksi bakteri berbentuk spiral dari genus Leptospira yang patogen. Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui kontak dengan urin atau cairan tubuh hewan terinfeksi, atau secara tidak langsung melalui air dan tanah yang tercemar urin hewan tersebut. Reservoir utama adalah tikus (Rodent), yang dapat menularkan bakteri seumur hidup tanpa gejala.
Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan definisi kasus surveilans yang terbagi menjadi tiga kategori:
A. Kasus Suspek (Suspect Case)
Ditandai dengan demam akut (mendadak) dengan atau tanpa sakit kepala, disertai:
- Nyeri otot (Mialgia), sering pada betis.
- Lemah (Malaise).
- Conjunctival suffusion (mata merah tanpa eksudat).
- Riwayat terpapar faktor risiko dalam 2 minggu terakhir (kontak air banjir, sungai, sawah, atau hewan).
B. Kasus Probabel (Probable Case)
Merupakan Kasus Suspek yang disertai minimal dua gejala/tanda klinis berikut:
- Nyeri betis.
- Ikterus (Kuning pada kulit/mata).
- Oliguria/anuria (Tidak bisa buang air kecil).
- Manifestasi perdarahan.
- Sesak nafas.
- Aritmia jantung.
- Batuk dengan atau tanpa batuk darah.
- Ruam kulit.
ATAU Kasus Suspek dengan hasil RDT (Rapid Diagnostic Test) positif IgM anti-Leptospira.
ATAU Kasus Suspek dengan 3 gambaran laboratorium berikut:
- Trombositopenia < 100.000/mm³.
- Leukositosis dengan Neutrofil > 80%.
- Kenaikan Bilirubin total, Amilase, CPK, atau adanya Proteinuria/Hematuria.
C. Kasus Konfirmasi (Confirmed Case)
Kasus Suspek atau Probabel disertai salah satu bukti laboratorium konfirmasi:
- Isolasi bakteri Leptospira dari spesimen klinik (darah/urin).
- PCR (Polymerase Chain Reaction) positif.
- Serokonversi MAT (Microscopic Agglutination Test) dari negatif menjadi positif.
- Kenaikan titer MAT sebesar 4 kali lipat pada serum berpasangan.
- Titer MAT ≥ 1:320 (atau 1:400) pada pemeriksaan satu sampel serum.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis meliputi:
- Laboratorium Rutin:
- Darah Lengkap: Untuk melihat leukositosis dan trombositopenia.
- Urinalisis: Untuk melihat proteinuria, hematuria, atau sedimen urin.
- Fungsi Hati & Ginjal: Bilirubin, SGOT/SGPT, Ureum, Kreatinin, CPK.
- Serologi:
- RDT (Rapid Diagnostic Test): Deteksi cepat antibodi IgM, praktis untuk di Puskesmas/RS.
- MAT (Microscopic Agglutination Test): Standar baku emas (Gold Standard) untuk mengetahui serovar penyebab, namun memerlukan fasilitas lab khusus dan mikroskop medan gelap.
- Bakteriologi/Molekuler:
- Kultur/Biakan: Menumbuhkan bakteri (butuh waktu lama).
- PCR: Deteksi DNA bakteri secara cepat dan akurat.
Tatalaksana (Pengobatan)
Pengobatan antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis Kasus Suspek ditegakkan secara klinis, tanpa menunggu hasil laboratorium konfirmasi.
A. Leptospirosis Ringan (Rawat Jalan)
- Pilihan Utama: Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari (Tidak boleh untuk anak & ibu hamil).
- Alternatif:
- Amoksisilin 3 x 500 mg/hari (Dewasa) atau 10-20 mg/kgBB per 8 jam (Anak) selama 7 hari.
- Makrolid (jika alergi Amoksisilin).
B. Leptospirosis Berat (Rawat Inap)
Kasus dengan komplikasi (ikterus, gagal ginjal, perdarahan) harus dirujuk ke Rumah Sakit.
- Antibiotik Parenteral:
- Ceftriaxone 1-2 gram IV (intravena) per hari selama 7 hari.
- Penisilin Prokain 1,5 juta unit IM per 6 jam selama 7 hari.
- Ampisilin 4 x 1 gram IV per hari selama 7 hari.
- Terapi Suportif: Penanganan gagal ginjal (dialisis/cuci darah), ventilator untuk gagal napas, dan transfusi komponen darah jika terjadi perdarahan hebat.