Pedoman Penanggulangan HIV, AIDS, dan IMS (PMK No. 23 Tahun 2022)
BAB I: PENDAHULUAN & STRATEGI NASIONAL
Target Eliminasi 2030
Indonesia berkomitmen mencapai target "Three Zero" pada 2030:
- Zero New Infection: Menurunkan infeksi baru.
- Zero AIDS-related Death: Menurunkan kematian akibat AIDS.
- Zero Discrimination: Meniadakan stigma dan diskriminasi.
Target 95-95-95 (Tahun 2027)
- 95% Pertama: ODHIV mengetahui status HIV-nya.
- 95% Kedua: ODHIV yang tahu statusnya mendapatkan terapi ARV (On ART).
- 95% Ketiga: ODHIV yang on ART mengalami supresi virus (viral load tidak terdeteksi).
BAB II: PENCEGAHAN PENULARAN (PrEP & PEP)
1. Profilaksis Pasca Pajanan (PEP)
Diberikan pada kejadian pajanan berisiko (tertusuk jarum, kekerasan seksual) sesegera mungkin (ideal < 4 jam, maksimal 72 jam).
Tabel Regimen ARV untuk PEP:
| Kategori Pasien | Regimen Pilihan | Regimen Alternatif |
|---|---|---|
| Dewasa & Remaja (>10 th) | TDF + 3TC + DTG | TDF + 3TC/FTC + LPV/r TDF + 3TC/FTC + EFV |
| Anak (<10 th) | AZT + 3TC + EFV* | AZT + 3TC + LPV/r ABC + 3TC + LPV/r |
> Catatan: EFV tidak untuk anak < 3 tahun. TDF tidak untuk anak < 2 tahun.
2. Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP)
Diberikan pada orang berisiko tinggi (LSL, Pasangan ODHIV diskordan) dengan syarat HIV Negatif.
- Regimen: TDF + 3TC (atau FTC).
- Pemantauan: Tes HIV ulang, kepatuhan, dan efek samping tiap 3 bulan.
BAB III: STRATEGI TES & DIAGNOSIS (SURVEILANS)
Alur Penegakan Diagnosis HIV
Diagnosis ditegakkan menggunakan 3 Reagen (R1, R2, R3) dengan metode atau antigen berbeda.
Prinsip Diagnosis: Hasil dinyatakan POSITIF hanya jika ketiga reagen (R1, R2, dan R3) menunjukkan hasil REAKTIF.
Interpretasi Hasil Tes:
- R1 (NR): Lapor sebagai NON-REAKTIF (Negatif).
- Kecuali: Ada risiko pajanan < 3 bulan (Masa Jendela), ulangi tes 2 minggu - 3 bulan lagi.
- R1 (R) + R2 (R) + R3 (R): Lapor sebagai POSITIF -> Rujuk PDP (Perawatan Dukungan Pengobatan).
- Hasil Diskordan (Tidak Konsisten):
- Jika R1 (R), R2 (R), R3 (NR) -> Inkonklusif.
- Jika R1 (R), R2 (NR) -> Ulangi R1. Jika hasil ulang tetap R -> Inkonklusif.
- Tindak Lanjut Inkonklusif: Ulangi tes 14 hari kemudian. Jika masih inkonklusif, lakukan pemeriksaan PCR RNA/DNA atau rujuk ke lab rujukan nasional.
[INSERT IMAGE: Bagan Alir 6.3 Diagnosis HIV Serologis Usia > 18 Bulan dari Halaman 77]
Diagnosis pada Bayi/Anak < 18 Bulan (EID)
Tidak bisa menggunakan antibodi (Rapid Test) karena masih ada antibodi ibu.
- Metode: PCR DNA HIV (Virologis).
- Waktu: Usia 6 minggu (atau secepatnya jika bergejala).
- Alur:
- PCR Positif -> Start ARV -> Konfirmasi ulang dengan sampel baru.
- PCR Negatif -> Cek Antibodi di usia 18 bulan (atau setelah berhenti ASI 3 bulan).
BAB IV: PENANGANAN KASUS & PENGOBATAN ARV
Prinsip "Test and Treat"
Pengobatan ARV diberikan pada SEMUA ODHIV tanpa memandang stadium klinis dan nilai CD4, sesegera mungkin (hari yang sama atau < 7 hari).
1. Regimen ARV Lini Pertama (Dewasa & Remaja)
| Kondisi | Regimen Pilihan | Regimen Alternatif |
|---|---|---|
| Umum (Naive) | TDF + 3TC + DTG (Tenofovir + Lamivudin + Dolutegravir) | TDF + 3TC + EFV 600 TDF + 3TC + EFV 400 |
| Koinfeksi TBC | TDF + 3TC + DTG* | TDF + 3TC + EFV 600 |
> Catatan: Jika menggunakan DTG bersama Rifampisin (Obat TB), dosis DTG dinaikkan menjadi 2x sehari (diberikan tambahan DTG 50mg berjarak 12 jam).
2. Regimen ARV Lini Pertama (Anak)
| Usia | Regimen Pilihan | Alternatif |
|---|---|---|
| 3 - 10 Tahun | AZT + 3TC + EFV | ABC + 3TC + DTG ABC + 3TC + EFV |
| < 3 Tahun | (ABC atau AZT) + 3TC + LPV/r | (ABC atau AZT) + 3TC + DTG* |
> Catatan: DTG pada anak hanya untuk usia > 4 minggu dan BB > 3kg.
3. Koinfeksi TB-HIV
- Mulai OAT dulu: Segera.
- Mulai ARV:
- Umum: Dalam 2 minggu setelah mulai OAT (tanpa melihat CD4).
- Meningitis TB: Tunda ARV 4-8 minggu (risiko IRIS berat).
- Profilaksis Kotrimoksazol (PPK): Wajib diberikan pada semua koinfeksi TB-HIV.
BAB V: PEMANTAUAN PENGOBATAN
Viral Load (VL) HIV
Merupakan standar emas pemantauan keberhasilan terapi.
- Jadwal: Bulan ke-6, Bulan ke-12, lalu setahun sekali.
- Target: Undetectable (Tidak terdeteksi) atau < 1000 kopi/ml (Supresi).
- Gagal Terapi (Virological Failure): Jika VL > 1000 kopi/ml pada dua pemeriksaan berturut-turut (interval 3 bulan) dengan kepatuhan baik. -> Switch ke Lini Kedua.
Kriteria Gagal Terapi (WHO)
- Gagal Virologis: VL > 1000 kopi/ml.
- Gagal Imunologis: CD4 turun < 100 sel/mm³ atau kembali ke baseline awal terapi.
- Gagal Klinis: Muncul infeksi oportunistik baru (Stadium 4) setelah 6 bulan terapi.
Catatan Penting: Jika terjadi efek samping berat (misal: Anemia berat karena AZT, atau Gangguan ginjal karena TDF, atau Psikosis karena EFV), lakukan Substitusi (ganti 1 obat biang kerok), bukan Switch regimen.